Terdampar di Aceh Utara, Dua Gelombang Pengungsi Rohingya Butuh Tempat Penampungan

infogeh.co, Aceh – Dua Gelombang pengungsi Rohingya terdampar di Aceh berturut-turut pada Selasa (15/11) dan Rabu (16/11) di Aceh Utara. Pendaratan kapal kayu pertama membawa pengungsi sebanyak 111 orang (sebelumnya disebut 110 orang) terdampar di pantai Meunasah Baro, Muara Batu. Sementara gelombang kedua dengan pengungsi 119 orang mendarat di kawasan Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara.

Saat ini, belum ada kejelasan di mana para pengungsi akan ditampung. “Kami dari Yayasan Geutanyoe mendesak pemerintah baik di tingkat pusat maupun di tingkat Provinsi Aceh dan Kabupaten Aceh Utara, untuk segera mengambil kebijakan mencari tempat penampungan sementara bagi para pengungsi Rohingya tersebut,” kata Nasruddin, Humanitarian Coordinator Yayasan Geutanyoe dalam keterangannya kepada acehkini, Rabu (16/11).

Menurutnya, hal itu sesuai dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri.

Sesuai data diperoleh Yayasan Geutanyoe, pengungsi Rohingya sebanyak 230 orang terdiri dari 126 orang laki-laki dewasa, 64 orang perempuan dewasa, 49 orang anak-anak dan 1 orang balita usia 10 bulan.

Narsuddin mengakui telah turun ke lokasi, menyebutkan para pengungsi sangat membutuhkan penanganan segera, tidak hanya dari sisi kebutuhan tempat tinggal, tapi juga kebutuhan untuk konsumsi dan perawatan kesehatan, khususnya perempuan dan anak-anak.

“Atas nama kemanusiaan, tentu saja nasib pengungsi Rohingya tidak terbatas pada tanggung jawab pemerintah saja. Dari itu, Yayasan Geutanyoe menyerukan kepada berbagai pihak untuk peduli dalam bentuk apa pun yang mungkin dibantu,” katanya.

Pada kesempatan ini, Yayasan Geutanyoe juga meminta kepada Pj Gubernur Aceh, Achmad Marzuki, untuk segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Pengungsi Luar Negeri (PPLN) Tingkat Provinsi Aceh. Hal ini diperlukan agar adanya kejelasan mengenai badan yang bertanggung jawab sebagai leading dalam isu penanganan pengungsi luar negeri.

Posisi geografis Aceh yang berhadapan dengan Laut Andaman dan berada di perairan Selat Malaka, adalah salah satu di antara jalur perlintasan laut tersibuk di dunia. Tidak hanya sebagai jalur perlintasan barang, tetapi juga orang, yang termasuk di antaranya menjadi jalur perlintasan para pengungsi luar negeri, terutama para pengungsi etnis Rohingya.

“Karena itu, pesisir Aceh selalu akan menerima para pengungsi luar negeri yang terdampar di laut kawasan tersebut,” urainya.

Yayasan Geutanyoe sendiri menyatakan komitmen untuk mendukung dan bekerja sama dengan berbagai pihak, terutama dengan pemerintah, dalam isu kemanusiaan terkait penanganan pengungsi luar negeri di Aceh.

Berita ini telah lebih dulu diterbitkan di halaman resmi Kumparan.com