Penusukan Ketua MUI di Banyuwangi Diduga Sakit Hati karena Ditegur

infogeh.co, Banyuwangi – KH Affandi Musyafa, Ketua MUI Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, menjadi korban percobaan pembunuhan oleh seorang pendatang di daerah tersebut yang bernama Darmanto (34).

KH Affandi ditusuk oleh Darmanto sehingga mengalami luka sobek di bagian rahang dan pinggang. Akibat tusukan tersebut, KH Affandi harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis secara intensif.

Kasi Humas Polresta Banyuwangi, Iptu Lita Kurniawan, membeberkan sebelum Darmanto menyerang korban, pelaku dan kedua anaknya sudah 15 hari berada di pondok pesantren milik KH Affandi.

Bahkan, korban juga sempat mengajari kedua anak pelaku tentang cara salat setelah salat maghrib, pada Kamis (17/2). Belum diketahui maksud DR ini menjadi santri di ponpes Al Hidayah bersama dua anaknya. Dua anaknya DR ini juga belum diketahui berusia berapa.

Kasus penusukan ini bermula pada Kamis (17/2) sore. Saat itu, Darmanto merasa sakit di perut. Dia kemudian meminta KH Affandi sebagai gurunya untuk diobati dengan air doa atau ruqyah.

Namun saat diobati, Darmanto tiba-tiba langsung menyerang gurunya itu dengan pisau belati.
Salah satu anggota polisi bertanya kepada pelaku, apakah dia sudah membawa pisau belati saat diobati oleh KH Affandi. Ia pun menjawab dengan melantur.

“Iya memang dari luar sudah, kita memang enggak karuan lagi, pikiran kita, tangan saja gemetar. Kalau sadar ngapain di situ kita sudah numpang. Ngapain saya ninggalin motor. Iya pak serius saya,” tanpa menjawab pasti apakah dia sudah membawa pisau sebelumnya atau tidak.

Kemudian anggota polisi di dalam mobil bertanya lagi untuk memastikan, “Jadi kamu sudah membawa pisau?” tanya anggota polisi. “Iya,” ucap DR lirih.

Saat diinterogasi polisi, Darmanto mengaku tidak sadar dan seperti ada yang mengendalikannya saat peristiwa penusukan tersebut.

“Memang kita kayak dikendalikan orang, nggak sadar nian itu, Pak,” kata DR saat dibawa dari tempat kejadian perkara ke Polresta Banyuwangi.

Usut punya usut, Darmanto juga bukanlah orang asli Banyuwangi melainkan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel). Sejak 6 bulan lalu, Darmanto merantau ke Banyuwangi dan tinggal di permukiman ilegal kumuh di daerah Jepit, Dusun Rejoagung, Desa Sumberagung.

Karena sudah menetap 6 bulan di Banyuwangi, DR akhirnya mengubah domisili di Kartu Tanda Penduduknya (KTP) yang beralamatkan di Dusun Rejoagung, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

Berita ini telah lebih dulu diterbitkan di halaman resmi Kumparan.com

Editor/Wartawan