Penting! Pengetahuan Dasar Crypto Currency dan Perkembangannya (dirangkum dari berbagai sumber*)

Sejarah Awal Crypto
Pada tahun 1983, David Chaum, ahli kriptografi dari Amerika mulai menggunakan uang digital kriptografi yang disebut e-cash. Kemudian, di tahun 1995, ia mengembangkannya melalui Digicash yang memungkinkan mata uang digital tidak dapat terlacak oleh bank penerbit, pemerintah, atau pihak manapun. Namun sayang, inovasinya ini gagal berkembang. Meski begitu penemuan David ini memiliki peran penting dalam pengembangan mata uang kripto selanjutnya.

Menurut Danny Taniwan, Bitcoin Maximalist dan Co-Founder Cryptowatch Community, DigiCash tidak berhasil karena modusnya bukan desentralisasi. DigiCash berhasil menerapkan dasar-dasar kriptografi dalam mata uangnya seperti anonimitas, private key, public key, dan cara kerja blockchain, namun masih terpusat pada satu perusahaan.

Selain itu, internet di masa 1980 belum benar-benar menjadi kebutuhan. DigiCash juga sempat mencari bank sebagai rekanan dan sulit bagi perbankan untuk menerima aktivitas keuangan dengan sistem itu.

Perkembangan Mata Uang Kripto
Perkembangan mata uang kripto mencapai titik terang pada 2008. Di tahun itu, Satoshi Nakamoto menerbitkan buku berjudul ‘Bitcoin – A Peer to Peer Electronic Cash System’, mengutip Forbes.

Isi buku tersebut juga diposting Satoshi ke milis diskusi kriptografi. Setahun kemudian, Satoshi merilis perdana mata uang kripto bernama Bitcoin ke publik.

Perilisan tersebut mendapat dukungan dari pelaku kriptografi. Pada 2010, mulai bermunculan mata uang kripto lainnya. Pertukaran Bitcoin perdana juga terjadi di tahun yang sama.

Lambat laun crypto mulai berkembang sangat pesat bahkan bisa dibilang menjadi salah satu perubahan yg besar untuk dunia teknologi, salah satu yg sudah/masih dikembangkan saat ini adalah :

1. Blockchain
2. Smartcontrack
3. Defi
4. Nft
5. Game play to earn
6. Metaverse
7. Web 3.0
8. Dao (Decentralized Autonomous Organization)

Akan kami coba jelaskan poin per poin.

– Blockchain
Blockchain adalah teknologi baru yang dikembangkan untuk sistem penyimpanan data digital. Teknologi ini terhubung melalui kriptografi dan penggunaannya sendiri tak bisa lepas dari mata uang Bitcoin dan Cryptocurrency.
Jaringan di dalamnya tidak mempunyai otoritas pusat, karena di dalamnya adalah catatan buku besar yang dibagikan dan juga tidak berubah, seluruh informasi yang ada di dalamnya terbuka untuk siapa saja untuk mereka yang ingin melihatnya.

Kendati dianggap teknologi modern, ide awal blockchain sendiri sudah dicetuskan oleh Scott dalam jurnalnya yang berjudul Journal of Cryptography: How to Time-Stamp a Digital Document sejak tahun 1991.

Defi (Decentralized Finance)
Mengacu pada layanan keuangan yang sepenuhnya beroperasi di jaringan blockchain, bukan melalui perantara seperti bank. Namun DeFi hadir dengan berbagai risiko yang juga perlu diatasi oleh para developer dan regulator sebelum dapat menjadi layanan arus utama.

Perbedaan Antara DeFi dan Keuangan Tradisional :
– Dalam Decentralized Finance, blockchain berperan utama mengatur segala pengerjaan di sektor keuangan. Sebaliknya, pemerintah publik yang memerlukan hukum dan lembaga keuangan yang teregulasi bertindak sebagai sumber kepercayaan yang mengatur semua kegiatan dalam keuangan tradisional.
– Decentralized Finance sangat menarik perhatian sejumlah kalangan karena sistemnya yang lebih terbuka dan transparan daripada keuangan tradisional. Siapa pun dapat mengambil bagian dalam membuat layanan dan alat finansial di atas teknologi blockchain. Sebaliknya dalam keuangan tradisional, seseorang harus memiliki lisensi dan otorisasi dari pihak yang berwenang atau regulator, sehingga hal ini membatasi inovasi-inovasi dalam sistem keuangan tradisional.
– Dalam Decentralized Finance, user dapat melakukan transaksi tanpa perantara, sehingga prosesnya akan lebih cepat dan mudah. Hal ini menyebabkan DeFi juga membutuhkan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan keuangan tradisional.

NFT
Secara sederhana, NFT merupakan sertifikat kepemilikan daring yang bisa diperjualbelikan, berbasiskan unit data yang disimpan pada buku besar digital (ledger) yang tergolong ke dalam teknologi blockchain.

NFT diciptakan sebagai representasi aset digital atau non-digital. Contohnya, karya-karya seni digital (gambar/foto/lukisan, animasi, koleksi unik, musik, video/animasi), pengganti dokumen-dokumen fisik (buku manual, tiket, invoices, dokumen penting, dan tanda tangan digital), dan karya kreatif lainnya.

Metaverse
Metaverse adalah sebuah dimensi virtual di mana pemain, biasanya diwakili oleh avatar, dapat berinteraksi satu sama lain. Seperti membangun pengalaman, dan membuat objek dan lanskap di dunia tersebut.

Metaverses biasanya memiliki ekonomi dan mata uang intrinsiknya sendiri, yang dapat digunakan oleh pengguna untuk membeli, menjual, dan memperdagangkan berbagai hal seperti real estate digital, item, aksesori avatar, dan masih banyak lagi. Anda dapat mengaksesnya melalui komputer, headset virtual reality (VR), atau smartphone.

Fitur-fitur pada Metaverse Crypto :
Perancang metaverse kripto umumnya berusaha membedakan dunia mereka dari iterasi metaverse sebelumnya dengan beberapa cara utama, yaitu:

– Desentralisasi
Sementara dunia virtual awal dimiliki dan dikendalikan oleh pihak tertentu, seperti perusahaan. Metaverse kripto biasanya bersifat terdesentralisasi, dengan beberapa atau semua komponen gim metaverse dibangun dengan menggunakan teknologi blockchain.

– Governance bagi Pengguna
Metaverse kripto seperti Decentraland menggunakan Decentralized Autonomous Organizations (DAO) dan token governance untuk membantu pengguna mereka dalam mengendalikan masa depan game. Token governance sendiri membantu para pengguna untuk mendorong perubahan dan pembaruan melalui voting.

Dengan cara ini, metaverse dapat menjadi lebih dari sekadar permainan kripto, karena mereka dapat tumbuh menjadi seluruh masyarakat dengan ekonomi dan kepemimpinan yang demokratis.

– Sumber yang Dapat Dibuktikan
Item yang digunakan dalam metaverse crypto sendiri di adaptasi dari bentuk token crypto, seperti non-fungible token (NFT). Pencapaian dan perolehan pada gim dapat mewakili nilai yang sangat besar bagi para gamer.

– Nilai Ekonomi
Selain itu, karena metaverse kripto menggunakan token kripto dan infrastruktur blockchain, ekonomi mereka terhubung langsung ke ekonomi kripto yang lebih luas. Hal ini memungkinkan pemegang token metaverse, avatar, dan real estate digital untuk memperdagangkannya melalui DEX dan NFT, sehingga dapat memberikan nilai nyata sebagai bentuk investasi.

Hingga saat ini, metaverse kripto (dan gim NFT pada umumnya) masih dalam tahap awal pengembangan, inovasi baru ini menghadirkan peluang sosial dan keuangan yang menarik untuk masa depan. Metaverse kripto dapat menyajikan cara baru kepada pengguna untuk bermain, berinvestasi, dan berinteraksi. 

Game Play To Earn
Permainan berbasis blockchain mulai menjadi incaran investor karena memberikan pengalaman saat berinvestasi. Tak hanya Axie Infinity, ada beberapa game kripto yang bisa dimainkan sepanjang 2022 mendatang.

Umumnya, game berbasis blockchain ini menggunakan sistem non-fungible token (NFT) yang dapat diperdagangkan kepada sesama pemain sehingga dapat menghasilkan keuntungan.
Beberapa game nft yg sedang populer saat ini salah satunya adalah :
1. Axie Infinite
2. Mana Decentraland
3. The Sandbox
4. Illuvium
5. Star Atlas, dll.

Smart Contract
Smart contract pertama kali dikenalkan pada tahun 1994 oleh Nick Szabo. Ia memperkenalkan sistem yang memformalisasi dan mengamankan jaringan komputer dengan cara mengombinasikan protokol antarmuka para penggunanya.

Szabo adalah ilmuwan komputer yang memperkenalkan bit gold pada tahun 1998, 10 tahun sebelum diluncurkannya Bitcoin. Dia juga menginisiasi ide dibuatnya sistem pembayaran yang mengombinasikan produk sekuritas dan pasar derivatif dalam format yang beragam.

Smart Contract adalah perjanjian antara dua orang dalam bentuk kode komputer. Smart contract berjalan di jaringan blockchain, sehingga mereka disimpan di database publik dan tidak dapat diubah.

Bedanya smart contrak dengan blockchain adalah ; Smart Contract adalah kode komputer yang ditulis atau dibuat di dalam jaringan cryptocurrency Blockchain. Sedangkan Blockchain adalah sebuah teknologi yang menggunakan metode buku catatan transaksi selayaknya buku akuntansi yang diprogram untuk mencatat informasi-informasi penting. Seperti contoh: catatan medis, transaksi finansial, dll. Lalu informasi ini dimasukkan ke dalam buku atau sebuah block yang kemudian disegel mengunakan fungsi kriptografi lalu disusun sesuai dengan urutan waktu dan dengan block sebelumnya.

Web 3.0
Web 3.0 adalah internet generasi ketiga yang akan datang di mana situs web dan aplikasi akan dapat memproses informasi dengan cara seperti manusia yang cerdas melalui teknologi seperti pemelajaran mesin (ML), Data Besar, teknologi buku besar terdesentralisasi (DLT), dll. Web 3.0 awalnya disebut Web Semantik oleh penemu World Wide Web Tim Berners-Lee, dan ditujukan untuk menjadi internet yang lebih mandiri, cerdas, dan terbuka.

Definisi Web 3.0 dapat diperluas sebagai berikut: data akan saling berhubungan dengan cara yang terdesentralisasi, yang akan menjadi lompatan besar ke depan untuk generasi internet kita saat ini (Web 2.0), di mana data sebagian besar disimpan dalam repositori terpusat.

Web 3.0 akan lahir dari evolusi alami alat web generasi lama yang dikombinasikan dengan teknologi mutakhir seperti AI dan blockchain, serta interkoneksi antara pengguna dan peningkatan penggunaan internet. Rupanya, Internet 3.0 adalah peningkatan dari pendahulunya: web 1.0 dan 2.0.

Fitur-fitur Utama Web 3.0
Untuk benar-benar memahami tahap selanjutnya dari internet, kita perlu melihat empat fitur utama Web 3.0:

1. Ubikuitas
2. Web Semantik
3. Kecerdasan Buatan
4. Grafik 3D

1. Ubikuitas
Ubikuitas artinya berada atau memiliki kapasitas untuk berada di mana-mana, terutama pada waktu yang sama. Dengan kata lain, ada di mana-mana. Dalam hal ini, Web 2.0 sudah ada di mana-mana karena, misalnya, pengguna Facebook dapat langsung mengambil gambar dan membagikannya, yang kemudian menjadi ada di mana-mana karena tersedia untuk siapa saja di mana pun mereka berada, selama mereka memiliki akses ke platform media sosial ini.

Web 3.0 hanya mengambil langkah lebih jauh dengan membuat internet dapat diakses oleh semua orang di mana saja, kapan saja. Pada titik tertentu, perangkat yang terhubung ke internet tidak akan lagi terpusat pada komputer dan ponsel pintar seperti di Web 2.0 karena teknologi IoT (Internet Segala Hal) akan melahirkan banyak jenis perangkat pintar baru.

2. Web Semantik
Semantik adalah studi tentang hubungan antara kata-kata. Oleh karena itu, Web Semantik, menurut Berners-Lee, memungkinkan komputer untuk menganalisis banyak data dari Web, yang mencakup konten, transaksi, dan hubungan antara orang-orang. Dalam praktik, bagaimana tampilannya? Mari kita ambil dua kalimat ini, misalnya:

Saya cinta Bitcoin
Saya ❤ Bitcoin
Sintaksnya mungkin berbeda, tetapi semantiknya hampir sama, karena semantik hanya berurusan dengan makna atau emosi konten.

Menerapkan semantik di Web akan memungkinkan mesin untuk memecahkan kode makna dan emosi dengan menganalisis data. Akibatnya, pengguna internet akan memiliki pengalaman yang lebih baik didorong oleh konektivitas data yang ditingkatkan.

3. Kecerdasan Buatan
Wikipedia mendefinisikan AI sebagai kecerdasan yang diperagakan oleh mesin.
Dan karena mesin Web 3.0 dapat membaca dan menguraikan makna dan emosi yang disampaikan oleh sekumpulan data, mesin tersebut menghasilkan mesin yang cerdas. Meskipun Web 2.0 menyajikan kemampuan serupa, namun masih didominasi oleh manusia, yang membuka kesempatan untuk perilaku korup seperti ulasan produk yang memihak sebelah, penilaian yang curang, dll.

Misalnya, platform ulasan daring seperti Trustpilot menyediakan cara bagi konsumen untuk meninjau produk atau layanan apa pun. Sayangnya, sebuah perusahaan dapat dengan mudah mengumpulkan sekelompok besar orang dan membayar mereka untuk membuat ulasan positif untuk produknya yang tidak layak. Oleh karena itu, internet membutuhkan AI untuk mempelajari cara membedakan yang asli dari yang palsu agar dapat memberikan data yang andal.

4. Web Spasial dan Grafik 3D
Beberapa futuris juga menyebut Web 3.0 sebagai Web Spasial karena bertujuan untuk mengaburkan batas antara fisik dan digital dengan merevolusi teknologi grafik, membawa dunia virtual tiga dimensi (3D) fokus yang jelas.
Tidak seperti rekan-rekan 2D mereka, grafik 3D membawa tingkat pendalaman baru tidak hanya dalam aplikasi gim futuristik seperti Decentraland, tetapi juga sektor lain seperti real estat, kesehatan, niaga-el, dan banyak lagi.

Dao (Decentralized Autonomous Organization)
DAO adalah cara yang efektif dan aman untuk bekerja dengan orang-orang yang berpikiran sama di seluruh dunia.
DAO sendiri dapat membantu menjaga suatu jaringan untuk tetap aman dan bisa optimal, tanpa memerlukan perantara manual oleh anggotanya. Ide awal pembuatan DAO adalah untuk mendirikan suatu organisasi yang sepenuhnya berfungsi tanpa embel-embel tatanan manajerial yang biasanya ada di suatu organisasi.

DAO berbeda dari organisasi tradisional yang dikelola oleh dewan, komite, maupun eksekutif. Sebaliknya, DAO menggunakan seperangkat aturan yang ditulis dalam kode digital dan ditegakkan oleh jaringan komputer yang menjalankan perangkat lunak bersama. Sederhananya, DAO adalah organisasi yang dikelola oleh alogritma-algoritma komputer, sehingga tidak dikendalikan oleh manusia langsung.

– Bagaimana Cara Kerja Decentralized Autonomous Organization?
Apa yang sesungguhnya Decentralized Autonomous Organization untuk dapat bekerja dengan baik?

Pertama-tama, sebuah aturan akan diprogram terlebih dahulu, di mana aturan-aturan tersebut akan diubah menjadi smart contract. Smart contract sendiri adalah program komputer yang bekerja secara independen di atas sistem Ethereum, namun di saat yang sama melibatkan manusia untuk memverifikasi seluruh kegiatan menggunakan program tersebut.

Setelah peraturannya ditetapkan, DAO memasuki tahap urun dana. Hal ini adalah unsur di dalam kegiatan Decentralized Autonomous Organization karena dua hal, yakni:

DAO memerlukan token yang akan digunakan oleh organisasi sebagai “pinjaman” yang akan diberikan ke debitur
Memastikan hak suara investor. Dengan berinvestasi di DAO, maka investor memiliki hak untuk memvalidasi atau menolak segala pembiayaan terhadap proyek-proyek yang akan dibiayai melalui DAO..
Setelahnya, DAO akan menjadi otonom dan independen secara sepenuhnya dari pembuatnya. Semua aturan dan transaksi finansial akan dicatat dalam sistem blockchain. Sehingga, ini membuat catatan transaksi di Decentralized Autonomous Organization menjadi transparan, tidak dapat dikorupsi dan tidak dapat dihapus dengan mudah..

Setiap pemegang saham dalam DAO juga dapat membuat proposal mengenai masa depan organisasi. Namun, untuk mencegah membludaknya jumlah proposal yang masuk, dibutuhkan deposit uang. Selanjutnya, pemegang saham akan melakukan pemungutan suara untuk menyepakati atau menolak proposal tersebut.

– Keamanan
Untuk mengubah sesuatu dalam DAO, dibutuhkan persetujuan dari mayoritas. Hal ini bisa menjadi hal yang positif dan negatif. Hal positif yang dapat dilihat adalah keamanan dari DAO ini sangat tinggi, karena DAO tidak dimiliki oleh perseorangan.

Dampak negatif dari DAO adalah, jika developers menemukan bug dalam program DAO, mereka akan sedikit kesulitan untuk mengubahnya.

Ethereum adalah fondasi yang sempurna untuk DAO karena sejumlah alasan:

Konsensus Ethereum sendiri didistribusikan dan cukup mapan bagi organisasi untuk mempercayai jaringan.
Kode kontrak pintar tidak dapat diubah setelah ditayangkan, bahkan oleh pemiliknya. Hal ini memungkinkan DAO untuk dijalankan dengan aturan yang telah diprogramnya.
Kontrak pintar dapat mengirim/menerima dana. Tanpa ini, Anda membutuhkan perantara yang terpercaya untuk mengelola dana kelompok.
Komunitas Ethereum telah terbukti lebih kolaboratif daripada kompetitif, memungkinkan praktik terbaik dan sistem pendukung muncul dengan cepat. 

*teknologi meta akan terus berkembang, bersiaplah.

Editor/Wartawan