Pendiri Payungi Dharma Setyawan Asal Lampung Diundang Kick Andy

infogeh.net, Jakarta – Ketua Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Provinsi Lampung Abdul Rohman Wahid menyambut baik diundangnya Dharma Setyawan, pendiri Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi) Kota Metro Lampung sekaligus pembina GenPI Lampung, dalam program Talk Show Kick Andy di Metro TV.

“Ini menggembirakan dan saya sangat bersyukur serta bangga, penggerak Payungi sekaligus dewan pembina GenPI Lampung diundang dalam program Talk Show Kick Andy untuk berbagi cerita menyampaikan keberhasilannya mendirikan Payungi dan menjadi inspirasi pemuda desa untuk membuat pasar kreatif dan kampung kreatif layaknya payungi,” kata Wahid, Jumat (21/1/2022).

Wahid menjelaskan, Dharma menjadi sosok inspiratif yang seolah-olah menyebarkan virus-virus kreativitas kepada para pemuda desa di Provinsi Lampung untuk membuat pasar kreatif dan kampung kreatif layaknya Payungi.

Dharma diundang untuk tampil di panggung nasional (Talk Show Kick Andy Metro TV. Dharma Setyawan diwawancara Andi F Noya dan akan tayang minggu depan di Metro Tv.

Tayangan itu mengangkat kisahnya menjadi seorang penggerak sekaligus pendiri Payungi. Berkat tangan dinginnya, Payungi menjadi pusat pasar kreatif di Lampung.

Tak sedikit para pemuda desa dari berbagai daerah yang ada di provinsi Lampung mengunjungi Payungi untuk belajar dan menimba ilmu tentang bagaimana membuat pasar kreatif agar ramai pengunjung dan selalu konsisten berdiri.

“Hal tersebut menggembirakan karena setidaknya menunjukan keberhasilan Dharma dan tim-tim kreatif di Payungi dalam menyebarkan virus kreativitas kepada pemuda desa di Lampung. Payungi menjadi magnet terbentuknya pasar-pasar kreatif di desa-desa yang ada di Lampung,” ujar Wahid.

Sementara itu, Dharma Setyawan menjelaskan tak seperti sulap yang seketika hadir, Payungi mengalami perjalanan panjang hingga akhirnya besar seperti sekarang.

Dalam historisnya awal kali merintis sampai meminjam kas musala sebesar Rp15 juta. Uang tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat yang nantinya berpartisipasi membuka lapak di Payungi.

“Bukan tanpa risiko, Saya dan pengurus setempat bertekad mengembalikan uang kas musala tersebut jika rencana yang dirancang tidak berjalan sesuai dengan harapan,” kata Dharma.

Belum lagi rasa rasa sangsi dari masyarakat setempat akan keberhasilan Payungi. Namun, segala keraguan itu bisa ditepis dengan baik. Akhirnya Payungi bisa sukses sampai sekarang dan memberikan banyak dampak positif.

“Di gelaran kali pertama tersebut, nilai transaksi yang ada di Payungi berhasil menembus angka Rp16 juta. sedangkan di gelaran ke-8, mereka sudah bisa membalikan uang kas yang dipinjam dan hingga sekarang menginjak usia tiga tahun. Payungi sendiri sudah mendapatkan omzet Rp6 miliar lebih terhitung dari 176 kali gelaran,” pungkasnya.

Perlu ketahui, di dalam Payungi sendiri terdapat lembaga-lembaga penggerak sosial dan pendidikan seperti Payungi University, Pesantren Wirausaha, Sekolah Perempuan, Kampung Bahasa Inggris, Kampung Kopi Payungi, Bank Sampah Payungi, Sekolah Anak, Kampung Mural dan Kampung Buku Payungi (literasi).

Ia berharap ke depan warga desa di Lampung semakin kreatif dan inovatif. Mampu berdaya saing sehingga dapat menumbuhkan ekonomi dan mengurangi angka pengangguran.