Mafia Minyak Goreng Bisa Raup Untung hingga Rp 9 Miliar

infogeh.co, Jakarta -Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengungkapkan adanya mafia minyak goreng yang membuat stok komoditas tersebut menjadi langka dan harganya mahal.

Menurut Lutfi, Kementerian Perdagangan telah menggelontorkan jutaan liter minyak goreng . Namun nyatanya di lapangan tidak sampai ke tangan masyarakat.

Ia pun merinci tiga wilayah yang distribusi minyak goreng berlimpah, yakni Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Jakarta. Namun, nyatanya di lapang minyak goreng tersebut justru sulit didapatkan. Melihat hal itu, Mendag menilai ada yang tidak beres.

“Saya contohkan kita pergi ke Sumatera Utara, antara 14 Februari sampai 16 Maret, Sumut mendapat pasokan 60.423.417 liter, rakyat Sumut menurut BPS 2021 jumlahnya 15,18 juta orang. Jadi kalau dibagi, setara dengan 4 liter per orang dalam satu bulan,” ujar Lutfi saat Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (17/3).

“Kalau kita pergi misal di Medan itu, mendapatkan 25 juta liter, rakyat Medan 2,5 juta orang, jadi 1 orang menurut hitungan 10 liter. Saya pergi ke kota Medan, ke pasar, ke supermarket, tidak ada minyak goreng,” lanjutnya

Mantan Dubes Indonesia untuk Amerika Serikat itu menduga, ada mafia yang membuat minyak goreng langka di pasaran. Bahkan menurutnya, mafia minyak goreng tersebut bisa meraup hingga Rp 9 miliar.

“Jadi spekulasi kita, deduksi kami ada orang yang mendapat mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Ini tiga kota ini satu industri ada di sana, kedua ada pelabuhan, jadi kalau keluar dari pelabuhan rakyat satu tongkang bisa 1 juta liter, dikali Rp 7-8 ribu, ini uangnya Rp 8-9 miliar, Kemendag tidak bisa melawan penyimpangan tersebut,” tuturnya.

Meski demikian, Lutfi menyebut pihaknya tak bisa mengontrol mafia tersebut. Selanjutnya hal ini akan diserahkan ke Satgas Pangan

“Jadi ketika harga berbeda melawan pasar, dengan permohonan maaf Kemendag tidak dapat mengontrol karena ini sifat manusia yang rakus dan jahat. Kita punya datanya, tapi sedang diperiksa Polisi dan Satgas Pangan, keadaannya sangat kritis dan mendesak. Ini tidak bisa dikesampingkan sifat manusia yang rakus dan jahat,” tambahnya.

Berita ini telah lebih dulu diterbitkan di halaman resmi Kumparan.com

Editor/Wartawan