Jaksa Agung Larang Atribut Keagamaan Dadakan Terdakwa saat Persidangan

infogeh.co, Jakarta – Jaksa Agung ST Burhanuddin geram. Ia menyoroti fenomena terdakwa yang mendadak memakai pakaian religius ketika menjalani sidang di pengadilan. Perubahan yang seolah-olah alim.

Fenomena ini kemudian yang membuat Burhanuddin mengingatkan kepada para Jaksa Penuntut Umum (JPU) agar tidak memfasilitasi atribut dadakan tersebut.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Ketut Sumedana mengatakan, imbauan itu ditujukan kepada para jaksa yang menghadirkan terdakwa di persidangan. Ia menyebut bahwa penggunaan atribut keagamaan tertentu itu seolah-olah menunjukkan sang terdakwa itu alim.

“Yang menghadirkan terdakwa itu, kan, JPU. Jadi, ada seolah-olah mereka yang dihadirkan itu alim ketika disidang sehingga mereka banyak menggunakan atribut-atribut agama tertentu, misalkan kopiah, jilbab,” kata Sumedana kepada wartawan, Selasa (17/5).

Sebenarnya, kata Ketut, pakaian sopan santun saat persidangan itu diatur oleh pengadilan, tapi yang menghadirkan terdakwa adalah JPU.

“Sehingga Pak Jaksa Agung ini, mengimbau kepada penuntut umum, bukan kepada perkara sidangnya. Tata sidang itu kan sudah kewenangannya hakim,” kata Sumedana.

Lebih lanjut, Ketut menerangkan bahwa alasan imbauan Jaksa Agung tersebut juga agar tidak ada kesan mendiskreditkan agama atau adat istiadat tertentu.

“Jangan sampai mereka [terdakwa] menggunakan atribut-atribut tertentu yang justru mendiskreditkan agama. Bukan hanya kopiah dan jilbab, bisa saja pakai pakaian adat, itu, kan, sudah enggak benar,” kata dia.

Ia pun mewanti-wanti jangan sampai atribut keagamaan atau adat istiadat malah mengotori agama dan budaya tertentu.

“Atribut yang mengarah kepada agama tertentu adat istiadat, budaya, itu jangan sampai mengotori, itu,” ujar dia.

Menurut Sumedana, pakaian sopan yang dimaksud dalam aturan persidangan hanya meliputi pakai celana panjang dan pakai sepatu.

“Ya, pakai atribut biasa ajalah yang dianggap sopan di persidangan,” tambahnya.

Alasan lain imbauan Jaksa Agung itu adalah jangan para terdakwa tersebut berpenampilan seolah-olah alim untuk mengiba kepada hakim.

“Jangan sampai kesannya itu, bahwa begitu dia [terdakwa] kena tindak pidana, begitu dia disidang seolah-olah dia menjadi alim,” kata Sumedana.

Menurut dia, imbauan soal atribut keagamaan saat sidang itu akan diatur selanjutnya dalam Surat Edaran (SE).

“Nanti akan dibikinkan SE khusus mengenai itu,” kata Sumedana.

“Jangan sampai di sidang dia berpakaian pakai jilbab, di luar yang nggak. Itu, kan, nggak enak kesannya, itu, lho,” pungkasnya.

Berita ini telah lebih dulu diterbitkan di halaman resmi Kumparan.com

Editor/Wartawan