IDAI Rekomendasikan Hindari Dulu Parasetamol Cair untuk Obat Anak

infogeh.co, Jakarta –  Akhir-akhir ini, penyakit gangguan ginjal akut (Acute Kidney Injury/AKI) pada anak terus menjadi sorotan karena penyebabnya yang masih misterius. Apalagi, merebaknya gangguan ginjal ini terjadi bersamaan dengan meninggalnya 70 anak di Gambia yang diakibatkan penggunaan sirup obat batuk buatan India.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menyatakan sirup obat mengandung parasetamol buatan Maiden Pharmaceuticals Limited itu mengandung terkontaminasi Dietilen Glikol (DEG) dan Etilen Glikol (EG). Obat-obatan yang menjadi penyebab kematian anak di Gambia ini sudah dipastikan tidak beredar di Indonesia.

Namun, sebagai bentuk kewaspadaan, Ketua Umum PP IDAI Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) merekomendasikan untuk sebaiknya menghindari dulu penggunaan parasetamol berbentuk cair sampai waktu yang belum ditentukan, sambil menunggu hasil penelitian penyebab terjadinya gangguan ginjal akut pada anak oleh Kemenkes.

“Belajar dari kasus Gambia itu ada karena Etilen Glikol, untuk kewaspadaan dini, kemarin rapat dengan Pak Menkes kita harapkan kita hindari dulu penggunaan parasetamol sirup, sambil cari buktinya di Indonesia ada atau tidak [obat] seperti itu. Kewaspadaan dini dimulai,” jelas Dr. Piprim dalam sesi diskusi di Instagram live bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Selasa (18/10).

Ya Moms, rekomendasi untuk menghindari sementara penggunaan parasetamol cair ini termasuk bagi pemberian obat tunggal maupun kombinasi, sampai hasil penelitian dari Kementerian Kesehatan keluar. Sehingga, bisa dicari tahu penyebabnya apakah memang terjadinya kasus gangguan ginjal akut misterius pada 180-an anak di Indonesia disebabkan oleh obat sejenis itu atau bukan.

“Dengan sistem kewaspadaan dini, kita belajar dari kasus Gambia, IDAI merekomendasikan untuk sementara sampai jelas buktinya dari Kemenkes untuk menghindarkan konsumsi obat-obatan seperti itu,” kata dia.

Sebagai deteksi dini, dr. Piprim menyarankan orang tua untuk memonitor jumlah dan frekuensi urine pada anak yang merupakan salah satu gejala gangguan ginjal akut. Bila anak mengalami gejala tersebut, segera dibawa ke dokter anak –dan bila perlu ke dokter spesialis nefrologi– untuk segera dilakukan serangkaian pemeriksaan.

Mengingat penyebab gangguan ginjal akut misterius pada anak masih terus didalami, ia juga berpesan agar si kecil menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti yang dilakukan selama pandemi COVID-19. Termasuk juga kurangi anak tidur terlalu malam, lebih banyak beraktivitas fisik, dan hindari dulu pemberian obat parasetamol cair.

“Setiap ada kasus yang belum jelas kasusnya, PHBS perlu diterapkan sambil kurangi konsumsi obat yang enggak perlu. Coba kembalikan ke upaya-upaya yang lebih safe. Kalau belajar di luar negeri, ada potensi obat toksik jangan dikonsumsi dulu. Kalau demam itu upaya tubuh menghilangkan virusnya. Bisa dengan kompres hangat, cukupi tidurnya, pakai baju tipis, kalau anak banyak minum pastikan terhidrasi. Budayakan ke masyarakat kita,” tutup dia.

Berita ini telah lebih dulu diterbitkan di halaman resmi Kumparan.com