Gunung Alip – Ulu Belu Rencana Pilot Projeck Tanaman Tembakau

GR (TANGGAMUS) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanggamus melalui Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) setempat akan mengembangkan budidaya Tembakau kepada petani di Dua (2) Kecamatan, yakni Kecamatan Gunung Alip dan Ulu Belu.

Menurut Kepala Seksi (Kasi) Produksi dan Pembenihan Hadison Mendampingi Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan Disnakbun Sunarso,  saat ini total lahan budidaya Tembakau di Kabupaten Tanggamus seluas 120 hektare (ha) yang tersebar di Tujuh (7) Kecamatan yakni di Kecanatan Pulau Panggung, Air Naningan, Pugung, Talang Padang, Sumberejo, Bulok dan Kota Agung.

“Budidaya komoditas Tembakau semakin berkembang dan diminati oleh petani kita, hal ini terlihat dari antusiasme Kelompok Tani di Kecamatan Ulu Belu dan Gunung Alip yang tertarik mengembangkan Tembakau dibawah binaan Pemkab dalam hal ini Disnakbun,” katanya mewakili Kepala Disnakbun Ir. Shofwan, MM, Senin (15/01/2018) diruang kerjanya.

Hadison menerangkan, ketertarikan petani untuk nengembangkan budidaya tembakau sangat beralasan, karena bernilai ekonomis tinggi dan pemasarannya yang lancar. Karena di Tanggamus ada 2 pola pengembangan budidaya, yakni sistem budidaya kemitraan dan budidaya mandiri.

Yang mana dengan 2 pola pengembangan tersebut semuanya lancar dalam pemasaran, sebab dengan pola mandiri pemasaran tembakau kering langsung ke pengepul yang selalu siap membeli.

Sedangkan pola kemitraan juga sangat mudah dalam pemasaran hasil panen, karena perusahaan mitra langsung membeli tembakau melalui APTI, dan untuk di Tanggamus sebagai mitra adalah Perusahaan Gudang Garam.

“Memang kalau harga lebih tinggi di pengepul tembakau lokal yakni Rp100 ribu perkilo daun tembakau kering, sedangkan sistem kemitraan harga kisaran Rp38 ribu perkilo, tapi benih dan sarpras budidaya dari pihak mitra,” terangnya.

Hadison menjelaskan, untuk pola budidaya Tembakau kemitraan sentranya di Kecamatan Pulau Panggung dengan luas lahan kemitraan 7,5 ha, Sumberejo 3 ha, Kota Agung 1.5 ha dan Talang Padang 1 ha, dengan hasil panen 13. 352,00 ton.

“Memang sistem kemitraan belum banyak petani tembakau yang menerapkan, dimana dari total 120 hektare lahan, hanya sekitar 13 hektare yang bermitra, selebihnya mandiri lokal. Sedangkan total keseluruhan hasil panen produksi tembakau mencapai 129.866,00 ton,” jelasnya.

Hadison menambahkan, varietas benih Tembakau yang dikembangkan dalam sistem kemitraan adalah jenis Ganung dan Krosok, sedangkan Tembakau lokal berbagai jenis, namun dominan dari varietas Krijing.

“Nah tahun ini rencananya satu perusahaan lagi yang akan bermitra bersama petani Tembakau Tanggamus yaitu PT Aliance One Indonesia, yang akan mengembangkan varieetas Tembakau Berley,” imbuhnya.(Red).