Fakta Miris soal Tragedi di Kanjuruhan yang Tewaskan Ratusan Penonton

infogeh.co, Malang – Tragedi terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10) malam. Tepatnya usai pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya. Suporter Arema FC, Aremania, yang kecewa dengan kekalahan timnya masuk ke lapangan usai pertandingan. Aksi itu kemudian direspons aparat untuk membubarkan mereka.

Seorang pecinta Singo Edan, Arief S (61), menuturkan kerusuhan belum meledak saat penonton mulai turun. Namun tak lama, beberapa botol minum dilempar dan bertebaran di pintu masuk ruang ganti bersamaan dengan petugas kepolisian yang membawa masuk para pemain masuk ke dalam.

Bentrok kemudian terjadi antara polisi dan suporter. Arief menduga, polisi kewalahan dan memilih untuk melakukan kekerasan dengan memukuli suporter.

Tameng hingga tongkat ‘melayang’ ke arah oknum suporter yang meronta. Menurut Arief, tak ada yang bisa terima dengan perlakuan tersebut.

“Akhirnya banyak penonton ramai kacau dengan polisi dan tentara. Itu karena dipentungi ya Allah. Sebetulnya polisi nggak boleh sekeras itu, lah, itu menyalahi SOP, harusnya di ‘halo’ aja banyak tentara dan aparat, karena dikasari temennya ya akhirnya penonton lainnya (ikut),” tuturnya. “Tapi dari penglihatan saya, suporter tidak memukul para pemain. Intinya, pemainnya mau dikritik saja karena mainnya kurang bagus,” ujar Arief kepada kumparan, Minggu (2/10).

Di sisi lain, Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta menjelaskan, ada suporter yang justru menyerang petugas. Sehingga situasi makin tak terkendali.

“Karena sudah mulai anarkis sudah menyerang petugas dan merusak mobil dan akhirnya karena gas air mata mereka keluar ke satu titik di pintu keluar. Yaitu kalau enggak salah di pintu 10 ya,” tutur Nico, Minggu (2/10).

Tembakan gas air mata tidak membuat situasi membaik. Sebab ada yang ditembakkan ke arah tribun dengan kondisi yang masih penuh penonton. Arief salah satu yang merasakan perihnya gas air mata yang ditembakkan petugas.

“Nggak tahunya di tribun penonton semua ditembaki (gas air mata). Saya ditembaki, itu jaraknya kurang lebih 15 meter, nggak cuma sekali, berkali-kali. Di tribun kan orang nggak anarkis cuma lihat saja kenapa ditembaki,” ungkap Arief.

“Begitu ditembak itu perih sekali, itu otomatis bahaya begitu ditembak meledak seperti petasan. Akhirnya ya pada mengumpat polisi semua. Untuk apa kami ditembaki, itu salah. Malah kacau akhirnya, ramai diserang, terus orang-orang lompat itu, marah betul,” imbuhnya.

Berita ini telah lebih dulu diterbitkan di halaman resmi Kumparan.com