3 Anak di Sumbar Tewas Dicekik Nenek-Kakek Tirinya

infogeh.co, Sumatera Barat – Kepolisian akhirnya mengungkap penyebab tewasnya 3 orang anak bernama Daffa Saputra (8), Muhammad Fadli (6) dan Muhammad Hafis (2,5) di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Kasus tewasnya anak tersebut terjadi pada September 2021 lalu.

Ketiga anak tersebut tewas pertama kali diberi tahu oleh nenek dan kakek tirinya yang mengasuh mereka. Saat itu, nenek dan kakeknya menyebut ketiga anak itu tewas karena keracunan makanan.

Kasat Reskrim Polres Solok Selatan, AKP Dwi Purwanto mengatakan, setelah makam ketiga anak tersebut dibongkar dan dilakukan autopsi, terungkap bahwa ketiga anak tersebut tewas karena diduga dicekik di bagian leher.

“Ada beberapa kejanggalan, termasuk bekas menghitam di leher. Jadi memang dicekik ketiga anak ini,” kata Kasat Reskrim Polres Solok Selatan, AKP Dwi Purwanto saat dihubungi kumparan, Jumat (3/6) malam.

Selain itu, kata Dwi, tulang rusuk kiri dan kanan terhadap anak pertama bernama Daffa Saputra patah. Penyebab patahnya tulang rusuk diduga akibat diinjak.

“Patah tulang rusuk sebelah kanan dan kiri. Ini berarti diinjak, dialami anak pertama,” ujarnya.

Dwi mengaku kecewa dengan para petugas medis yang sempat melakukan pemeriksaan saat ketiga anak dilarikan ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan awal saat kasus ini mencuat tim medis hanya menyebutkan korban sesak napas.

“Saya kecewa dengan dokter. Sempat kami periksa dokternya. Ini masalahnya (saat awal kasus mencuat), dokter hanya bilang sesak napas,” tandasnya.

Sejauh ini polisi belum menjelaskan soal rencana pemeriksaan terhadap nenek dan kakek tiri dari ketiga anak tersebut.

Kasus ini berawal saat ketiga anak ini diketahui meninggal dunia secara mendadak, dugaan awal keracunan makan ringan pada Sepember 2021 lalu. Uji sampel terhadap makanan yang dicurigai sebagai penyebab telah dilakukan BBPOM di Padang saat itu.

Hasil uji sampel makanan pun tidak mengandung racun atau arsen dan sianida. Sampel yang diperiksa di antaranya makanan ringan, kerupuk palembang dan kerupuk ubi.

Saat dinyatakan meninggal dunia, orang tua ketiga anak sempat menolak untuk dilakukan autopsi. Namun setelah hasil uji sampel tak mengandung racun, orang tua anak menyetujui untuk dilakukan otopsi sehingga makam anak dibongkar.

AKP Dwi saat itu menyebut, orang tua korban tahu anaknya meninggal dari kabar yang disampaikan oleh nenek dan kakek tirinya. Kejanggalan lain anak-anak ini tidak dibawa ke rumah sakit secara serentak.

“Dikasih tahu (ke orang tua) sama neneknya, kemudian dibawa ke rumah sakit anak pertama. Kemudian, dikasih tahu lagi sama kakek tirinya anak kedua kejang-kejang dibawa ke rumah sakit. Setelah itu anak terkahir begitu juga,” jelasnya.

“Jadi anak ini dalam penguasaan kakek dan neneknya. Ini sudah jelas. Jadi anak ini dibawa ke rumah sakit tidak secara serentak, tapi bergilir. Di rumah sakit sudah tidak sadar,” tutupnya.

Berita ini telah lebih dulu diterbitkan di halaman resmi Kumparan.com

Editor/Wartawan